Skip to content

Back To Home Schooling

Default screen resolution  Wide screen resolution  Increase font size  Decrease font size  Default font size 
Anda sedang di:     Home
SEMINAR DAN PELATIHAN PENGINTEGRASIAN VISI SETS DALAM DESAIN MODUL
Saat itu hari Kamis, dan bulan Mei baru saja dimulai. Itu bukan minggu yang spesial. Tidak ada Forum Ok! yang harus dihadiri olehku, tidak ada reuni yang harus kukunjungi, atau tetek bengek lainnya. Minggu itu diisi oleh formalitas lama bagiku: diskusi di kelompok belajar di hari Jum’at, futsal di hari Sabtu, dan Tae-Kwon-Do di hari minggu. Tak ada yang diluar dugaan dan apalagi tak direncanakan. Atau setidaknya itu perkiraanku.Kamis malam, mamaku memberitahuku sebuah berita yang shocking. Anak dari seseorang bernama Pak Dani yang seharusnya menjadi pembicara di Forum Ok! ternyata tak bisa hadir dan sesuai kebiasaan lamanya, mamaku meminta aku membuat presentasi/makalah untuk disajikan didepan penonton di forum itu. Bahasa mudahnya? Aku disuruh menjadi pembicara pengganti! Tentu saja perasaanku saat itu mudah ditebak. Aku sangat terkejut. Apalagi forum kali ini berlangsung selama dua hari (3-4 Mei 2008) dan akan mengacaukan jadwal weekend sebelumnya yang sudah ditetapkan olehku. Meskipun begitu, sudah berbulan-bulan aku tidak menjadi pembicara, dan kurasa ini cara yang bagus untuk kembali ”berbisnis” (saya menerjemahkan sebuah anekdot Inggris untuk yang satu ini). Jadi, aku menerima tawaran itu. Namun, sebaik apapun aku berusaha, tetap saja ada satu bidang yang kurang kukuasai. Mencari topik. Setelah aku brainstorming dengan mamaku, dia akhirnya menerima usulan dari Bu Yanti yang memintaku membuat presentasi mengenai pemanasan global dan kenapa anak-anak harus tahu tentang ini. Usulan ini kurasa cukup bagus, dan akupun menerimanya. Minimnya pengetahuanku tentang pemanasan global bisa ditutupi dengan sedikit penelitian. Presentasi bisa dibuat saat aku menginap di Bandung. Akhirnya, akupun menjadi pembicara ”dadakan”.Travel kita berangkat jam 11 pagi di hari Jum’at, dan diwarnai oleh sebuah insiden kecil saat earphone di handphoneku tersangkut di pintu mobil. Perjalanannya memakan waktu sekitar 2 jam, dan kita sampai disitu pada jam 1.30. Setelah makan siang di restoran Ampera, aku menggunakan taksi untuk menuju ke penginapan kita dan sekaligus tempat berlangsungnya acara, PPPPTK IPA. Kabarnya, Arie dan Zakky akan datang, jadi acara menginap ini bakal ramai sekali.Namun, setelah kita sampai di PPPPTK, yang kita lakukan ternyata hanya menaruh barang bawaan. Ternyata, dari situ mama masih punya acara lain yang dilaksanakan di Gedung Indonesia Menggugat, tempat diadakannya acara yang bertema Mencari Figur Pemimpin Yang Tepat Bagi Bandung (dari sisi pendidikan, tentunya). Disitu aku berpartisipasi dan bertemu teman lamaku (aku lupa siapa namanya) yang sempat aku paksa membeli buku yang kala itu sedang kujual. Di sisa hari itu tak ada yang spesial, kecuali mungkin kedatangan kakekku menjelang maghrib dan datangnya Zakky and his families di tengah malam.Pada hari Sabtu, aku dibangunkan oleh Arie yang baru saja sampai dari Bogor. Tanpa berpikir panjang, aku langsung asyik main game komputer dengannya dan Zakky, dan akhirnya ketinggalan sarapan. Tapi aku tak begitu peduli tentang hal itu, dan akhirnya meninggalkan kegiatan itu setelah kira-kira 45 menit. Namun Zakky dan Arie terus bermain game, dan akhirnya berhenti ketika para panitia ingin meminjam laptopnya untuk digunakan di hari pertama Forum Ok. Meskipun dengan berat hati, akhirnya kita bertiga menyerahkan laptop itu dan mengikuti acara seminarnya, yang dimulai pada jam 9 pagi. Disitu aku sempat mengisi sebuah lembar kerja yang berbicara tentang hal-hal yang kita pelajari. Misalnya tentang hal yang perlu diajarkan dan secara sadar diajarkan, kebalikannya, dll. Namun, meskipun kegiatan itu cukup menyenangkan, kurasa ini saatnya untuk membuat presentasi kita. Akhirnya aku mengajak Arie dan Zakky (yang akan menemaniku menjadi pembicara) untuk membuat presentasi kita dengan laptopnya, yang kebetulan sedang menganggur. Akhirnya, kami berhasil meyakinkan mamaku, Bu Yanti, dan Bu Mutia untuk meminjamkan laptop itu pada kami, dengan dasar alasan bahwa aku ingin menggunakannya untuk membuat presentasi, dan bukan (hanya) untuk bermain game. Diluar dugaanku, mereka mengizinkan kami, dan dengan perasaan euforia kami membawanya ke kamar kami.Sesampainya di kamar itu, aku bertekad tidak memanfaatkan kepercayaan, dan ingin langsung membuat presnetasi itu sebelum melakukan hal lainnya. Tapi, kedua partnerku malah asyik tidur. Meskipun aku bisa saja membuat presentasi itu sendiri, rasanya kurang afdol jika presentasi yang akan dibawakan oleh 3 orang dibuat secara individual. Herannya, mereka malah ”mengancam” tidak akan membuat presentasi itu jika kebosanan dan rasa ngantuk mereka tak diberi penawar, yaitu game. Bisa ditebak bagaimana perasaanku kala itu. Marah, sebal, bingung, dan rasa bersalah bak dicampur jadi satu. Tapi mereka sahabatku. Jika aku memarahi mereka rasanya seolah membentak mamaku sendiri. Mungkin sisi sentimental dan ”tidak tegaan”ku inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang. Aku mencoba bersikap teguh, tapi mereka ikut bersikeras. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan mereka bermain game selama satu jam, setelah mereka berjanji akan langsung membuat presentasi setelah waktu itu berakhir. Akhirnya mereka bermain game lagi dan aku, merasa kurang berhak, hanya duduk di tempat tidur dan membuat outline bagi presentasi kita, meskipun sesekali aku menonton dan menyoraki salah satu pihak yang sedang bermain.Akhirnya, waktu satu jam itu berakhir. Arie langsung menggulung stik game dan menyalakan program Microsoft Visio. Namun Zakky, yang terkenal dengan pembawaannya yang super-santai, justru berbaring di tempat tidur dan berpartisipasi secara lisan dengan saran-sarannya. Meski sempat diberitahu untuk melihat di kopian film An Inconvenient Truth karya Al Gore, kami akhirnya menemukan sumber yang super lengkap dai Encarta Encyclopedia, dan itulah yang kami gunakan sebagai sumber utama, dan ditambah oleh pengatahuan yang didapat setelah mengingat-ingat bahan yang dari majalah dan ensiklopedia. Saking menikmatinya, presentasi itu selesai dalam waktu kurang dari 1 jam, dengan pengetahuan dan sudut pandang yang mungkin diatas rata-rata. Mungkin ada satu hal yang memacu kita: Saat itu aku berkata pada crony-ku, ”Setelah ini selesai, artinya kewajiban kita sudah selesai. Jadi semakin cepat kita mengerjakannya, semakin cepat kita main game lagi.”Setelah presentasinya selesai, dengan antusiasme berlebihan aku langsung menelpon mamaku dan setelah itu langsung main game dengan perasaan lega. Tak ada yang spesial di sisa hari itu, namun aku harus menerima kenyataan pahit bahwa kakek harus pulang lebih awal, dan tak bisa melihat aku jadi pembicara. Namun aku bisa memahami alasannya. Ada bisnis yang harus ditangani, begitu katanya. Ah, tua-tua keladi.Besoknya, perasaan gugup dan tegang menguasai diriku, tapi aku berhasil menenangkan diri. Bagaimana tidak, kira-kira ada 150 orang yang datang saat itu, kamilah yang pertama kali berpartisipasi, dan kita bertiga tak sempat sarapan. Akhirnya, meskipun agak tegang karena presentasinya belum dilihat oleh siapapun selain kita bertiga, aku maju kedepan. Disitu, aku mencoba mempertahankan ciri khasku saat berbicara sambil berkomunikasi dengan teman-temanku untuk berbicara secara bergantian (aku mengambil sikap seperti kiper Diego Benaglio yang tak berani asal menilai kehebatan diri sendiri, melainkan membiarkan orang lain mengurusi hal itu). Anehnya, kata-kata semacam ”Silahkan, Arie” atau ”Ayo, Zakky” itu tertangkap oleh mik, dan ini sempat mengundang tawa para penonton. Kamipun berhasil mempresentasikan dokumen setebal 12 slide itu dengan lancar, dan mendapat tepukan meriah dari penonton. Setelah itu, aku diajak makan brunch dengan Bu Mutia. Aku dibayar 150 ribu hari itu!Kami berangkat pulang sorenya, dan aku diberi pelajaran oleh mama untuk mengendalikan nafsu main gameku lain kali, because it has cost me 4 Kumons that i didn’t do. Sisa harinya dihabiskan dengan mengobrol bersama teman-temanku ditengah mobil. Totalnya, ada satu komentarku untuk akhir minggu itu:Dang it, this visit is even more meaningful than ever! Dilaporkan oleh Raka Ibrahim AnshafarieAnggota Kelompok Belajar SAnDi KerLiP, setara SMP
 

Polls

Apa yang paling anda khawatirkan dalam konsep homeschooling?